Buat kawan-kawan setia blog ini yang mau mendengarkan cerita dewasa dalam bentuk audio (suara cewek bos!) silahkan klik Disini Jangan lupa rajin-rajin berkunjung ke blog ane and jaga sikap kawan-kawan terhadap saudari-saudari kita. Cewek-cewek juga manusia gan. Dipergunakan untuk keperluan pribadi, TITIK

Jumat, 15 April 2011

Dasar-dasar Filsafat Ilmu Pendidikan

Baiklah sekarang kita lihat dasar-dasar filsafat keilmuan terkait dalam arti dasar ontologis, dasar epistemologis, dan aksiologis, dan dasar antropolgis ilmu pendidikan.


Dasar ontologis ilmu pendidikan
Pertama-tama pada latar filsafat diperlukan dasar ontologis dari ilmu pendidikan. Adapun aspek realitas yang dijangkau teori dan ilmu pendidikan melalui pengalaman pancaindra ialah dunia pengalaman manusia secara empiris. Objek materil ilmu pendidikan ialah manusia seutuhnya, manusia yang lengkap aspek-aspek kepribadiannya, yaitu manusia yang berakhlak mulia dalam situasi pendidikan atau diharapokan melampaui manusia sebagai makhluk sosial mengingat sebagai warga masyarakat ia mempunyai ciri warga yang baik (good citizenship atau kewarganegaraan yang sebaik-baiknya).

Agar pendidikan dalam praktek terbebas dari keragu-raguan, maka objek formal ilmu pendidikan dibatasi pada manusia seutuhnya di dalam fenomena atau situasi pendidikan. Didalam situiasi sosial manusia itu sering berperilaku tidak utuh, hanya menjadi makhluk berperilaku individual dan/atau makhluk sosial yang berperilaku kolektif. Hal itu boleh-boleh saja dan dapat diterima terbatas pada ruang lingkup pendidikan makro yang berskala besar mengingat adanya konteks sosio-budaya yang terstruktur oleh sistem nilai tertentu. Akan tetapipada latar mikro, sistem nilai harus terwujud dalam hubungan inter dan antar pribadi yang menjadi syarat mutlak (conditio sine qua non) bagi terlaksananya mendidik dan mengajar, yaitu kegiatan pendidikan yang berskala mikro. Hal itu terjadi mengingat pihak pendidik yang berkepribadiaan sendiri secara utuh memperlakukan peserta didiknya secara terhormat sebagai pribai pula, terlpas dari factor umum, jenis kelamin ataupun pembawaanya. Jika pendidik tidak bersikap afektif utuh demikian makaa menurut Gordon (1975: Ch. I) akan terjadi mata rantai yang hilang (the missing link) atas factor hubungan serta didik-pendidik atau antara siswa-guru. Dengan egitu pendidikan hanya akan terjadi secar kuantitatif sekalipun bersifat optimal, misalnya hasil THB summatif, NEM atau pemerataan pendidikan yang kurang mengajarkan demokrasi jadi kurang berdemokrasi. Sedangkan kualitas manusianya belum tentu utuh.


Dasar epistemologis ilmu pendidikan

Dasar epistemologis diperlukan oleh pendidikan atau pakar ilmu pendidikan demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab. Sekalaipun pengumpulan data di lapangan sebagaian dapat dilakukan oleh tenaga pemula namuntelaah atas objek formil ilmu pendidikan memerlukaan pendekatan fenomenologis yang akan menjalin stui empirik dengan studi kualitatif-fenomenologis. Pendekaatan fenomenologis itu bersifat kualitaatif, artinya melibatkan pribadi dan diri peneliti sabagai instrumen pengumpul data secara pasca positivisme. Karena itu penelaaah dan pengumpulan data diarahkan oleh pendidik atau ilmuwan sebagaai pakar yang jujur dan menyatu dengan objeknya. Karena penelitian tertuju tidak hnya pemahaman dan pengertian (verstehen, Bodgan & Biklen, 1982) melainkan unuk mencapai kearifan (kebijaksanaan atau wisdom) tentang fenomen pendidikan maka vaaliditas internal harus dijaga betul dalm berbagai bentuk penlitian dan penyelidikan seperti penelitian koasi eksperimental, penelitian tindakan, penelitian etnografis dan penelitian ex post facto. Inti dasar epistemologis ini adalah agar dapat ditentukan bahaawa dalam menjelaskaan objek formaalnya, telaah ilmu pendidikan tidaak hanya mengembangkan ilmu terapan melainkan menuju kepada telaah teori dan ilmu pendidikan sebgaai ilmu otonom yang mempunyi objek formil sendiri atau problematika sendiri sekalipun tidak dapat hnya menggunkaan pendekatan kuantitatif atau pun eksperimental (Campbell & Stanley, 1963). Dengan demikian uji kebenaran pengetahuan sangat diperlukan secara korespondensi, secara koheren dan sekaligus secara praktis dan atau pragmatis (Randall &Buchler,1942).


Dasar aksiologis ilmu pendidikan

Kemanfaatan teori pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab. Oleh karena itu nilai ilmu pendidikan tidak hanya bersifat intrinsic sebagai ilmu seperti seni untuk seni, melainkan juga nilai ekstrinsik dan ilmu untuk menelaah dasar-dasar kemungkinan bertindak dalam praktek mmelalui kontrol terhadap pengaruh yang negatif dan meningkatkan pengaruh yang positif dalam pendidikan. Dengan demikian ilmu pendidikan tidak bebas nilai mengingat hanya terdapat batas yang sangat tipis antar pekerjaan ilmu pendidikan dan tugas pendidik sebagi pedagok. Dalam hal ini relevan sekali untuk memperhatikan pendidikan sebagai bidang yang sarat nilai seperti dijelaskan oleh Phenix (1966). Itu sebabnya pendidikan memerlukan teknologi pula tetapi pendidikan bukanlah bagian dari iptek. Namun harus diakui bahwa ilmu pendidikan belum jauh pertumbuhannya dibandingkan dengan kebanyakan ilmu sosial dan ilmu prilaku. Lebih-lebih di Indonesia.

Implikasinya ialah bahwa ilmupendidikan lebih dekat kepada ilmu prilaku kepada ilmu-ilmu sosial, dan harus menolak pendirian lain bahwa di dalam kesatuan ilmu-ilmu terdapat unifikasi satu-sayunyaa metode ilmiah (Kalr Perason,1990).


Dasar antropologis ilmu pendidikan

Pendidikan yang intinya mendidik dan mengajar ialah pertemuan antara pendidik sebagai subjek dan peserta didik sebagai subjek pula dimana terjadi pemberian bantuan kepada pihak yang belakangan dalaam upaayanya belajr mencapai kemandirian dalam batas-batas yang diberikan oleh dunia disekitarnya. Atas dasar pandangan filsafah yang bersifat dialogis ini maka 3 dasar antropologis berlaku universal tidak hanya (1) sosialitas dan (2) individualitas, melainkan juga (3) moralitas. Kiranya khusus untuk Indonesia apabila dunia pendidikan nasional didasarkan atas kebudayaan nasional yang menjadi konteks dari sistem pengajaran nasional disekolah, tentu akan diperlukan juga dasar antropologis pelengkap yaitu (4) religiusitas, yaaitu pendidik dalam situasi pendidikan sekurangkurangnya secara mikro berhamba kepada kepentingan terdidik sebagai bagian dari pengabdian lebih besar kepada Tuhan Yang Maha Esa.


(Nunu Heryanto)

Peradaban Mengandaikan Edukasi?

Penulis : Mudji Sutrisno


APAKAH peradaban merupakan olahan proses dirajutnya moralitas (baca: kesadaran mengenai baik dan buruk untuk menyikapi hidup) bersumber pada religiositas dalam strukturisasi dan kulturasi hidup bersama terus-menerus untuk membangun masyarakat, negara (secara politik sejahtera dan damai), serta tata ekonomi berkeadilan hingga semakin sedikit masyarakat yang miskin dan semakin sedikit yang tidak mendapatkan hak hidup sebagai manusia?

Apakah jumlah aktor atau pelakunya ketika tidak mau lagi punya anak demi penjungkiran nilai pascaindustri di mana ayah/suami kerja beda tempat dan istri harus kerja pula, lalu memilih cara hidup double income and no kids couples (= DINKS), yaitu pasangan-pasangan yang tak mau punya anak karena tidak mau repot serta mau menikmati hidup di "Barat", menentukan surutnya bahkan matinya peradaban Barat?

Buku Patrick J Buchanan, The Death of the West (NY, 2002), tidak hanya secara provokatif menggugat peradaban Barat dengan data penduduk yang makin surut serta kenyataan imigran non-Barat yang populasinya 3-4 kali lipat lalu menghuni dan hidup di Amerika Serikat tanpa menghirup perekat moralitas nilai korban diri dan semangat mau membangun pluralitas dalam unitas atau majemuk dalam kesatuan bernegara beretos hidup merdeka, mau seperti membangun batu-batu untuk direkatkan sebagai bangsa lewat kemerdekaan, hormat menghormati sesama dan etos kerja keras bukan etos penikmatan hidup sebenarnya merupakan titik persimpangan jalan antara bunuh diri karena moralitas yang dulu dijunjung tinggi seperti keluarga banyak, utuh, ayah ibu kerja dan berkorban untuk perkembangan anak-anak lewat keteladanan kini justru dicampakkan dan diganti gaya moralitas selingkuh, egohedonis, dan sama sekali tak mau korban bahkan peduli pada yang lain?

Ada bagian dari manusia yang disebut kesadaran. Kesadaran ini bertumbuh bersamaan dengan diasahnya budi dan ditajamkannya nurani melalui pendidikan.

Ketika mata budi diajari untuk peka melihat ada yang lain sebagai sesama makhluk dan sesama manusia, di sana rasa ikut menanggung papa serta sukacita dirajut dalam renung-renung refleksi budi.

Ketika nurani diasah lewat pemecahan sepotong roti yang dibagi ibu untuk tidak hanya kumakan sendiri, namun rela membagikannya pada teman atau saudara, di sana yang lain diteguhkan kehadirannya dalam pilihan nurani untuk berbagi hati.

Pendidikan yang dihayati dengan meminum air jeruk kebaikan, oksigen kebenaran dan sinar hangat matahari hidup keindahan, yang diolah dalam benturan-benturan konflik dan pilihan sadar nurani hingga terbentuklah sikap penghayatan hidup penuh syukur karena hati hening mampu menangkap karya Pencipta di alam dan dalam sesama-sesama makhluknya sebagai saudara-saudara-i sesama ciptaan yang sesama manusia itu sendiri.

NAMUN, sejarah pengalaman peradaban menunjukkan logika pilihan dua cabang. Yaitu, ketika kekuatan-kekuatan kreatif bangsa dengan kekayaan dan kebijaksanaan lokalnya majal dan mandul dalam menjadi ruang belajar membatinkan kebenaran, kebaikan, dan keindahan karena kesalahan aktor-aktornya yang dikutuk sejarah lantaran tidak pernah mau belajar menguasai naluri purba dan hasrat berkuasa, hingga terus-menerus menghabiskan diri dalam berkelahi, maka di sana peradaban selalu ditarik surut menjadi kebiadaban atau ruang berkelahinya gajah sesama gajah pelanduk mati di tengah-tengah. Ruang publik peradaban untuk membangun tata sosial menjadi gagal terus karena energi kreatif (dihabiskan untuk unjuk diri dan saling dengki karena sesama dicurigai sebagai persaingan yang oleh Thomas Hobbes disebut situasi manusia mengerkah sesamanya, seperti serigala yang saling merebutkan makanan (homo homini lupus).

Pilihan kedua, adalah jalan peradaban yang sadar akan kehidupan lalu mendidik diri dan seluruh energi kreatif bangsa untuk mengolah sumber-sumber alam dalam tata ekonomi merata sesama warga, membentuk hidup sosial saling menghormati dalam tata/masyarakat taat asas aturan hukum yang disepakati demi kedamaian serta sepakat merajut kesejahteraan bersama dalam kreasi-kreasi peradaban di mana kematian dan bunuh diri budaya ditolaknya dan diganti dengan ikhtiar-ikhtiar serta aksi budaya mencintai dan mempermuliakan kehidupan. Proses hidup menjadi nilai. Kelahiran sesama menjadi perayaan. Perjuangan membela dan mengorbankan diri bagi mekarnya generasi-generasi baru menjadi latihan ekspresi diri untuk mewujudkan kecintaan pada hidup dan pemuliaan pada tiap makhluk dan sesama manusia sebagai bermakna.

Dari mana sumber-sumber penghayatan nilai itu? Dari setiap oasis religius, estetika, dan logika tradisi cinta alam dan cinta kehidupan yang dirayakan di tiap adat, di tiap local geniuss dan diterus-turunkan lewat wacana lisan atau tulisan dalam apa yang oleh istilah modern disebut pendidikan kehidupan.

Pada kedua ini, kehidupan dibaca teksnya dan direnungi wisdom serta rohnya lalu dirayakan bersama anak cucu untuk tetap mencintai dan mempermuliakan serta tidak merampok menghancurkannya demi ego diri serakah atau demi komunalisme sempitnya yang lupa bahwa bahasa ini majemuk, dan hanya mampu merekat bila menyumbangkan masing-masing untuk satu permuliaan kelangsungan kehidupan itu sendiri.

Oasis kebenaran tidak hanya diolah dalam penangkapan pengertian otak melulu, tetapi dikaji bersama nurani dalam renungan-renungan pertanyaan pokok, yaitu untuk apa kita bersama sebagai bangsa ini menghayati dan memaknai hidup yang majemuk suku, majemuk kekayaan identitas, namun menyatu dalam bernegara dengan kesepakatan tata negara yang adil, beradab, majemuk, pasti hukum dan demokratis?

Oasis kebaikan tidak hanya diramaikan dalam pepatah, petuah kata, serta ajakan pidato dan upacara formal, namun dicoba hayati sebagai etos perlakuan terhadap sesama yang dari mata air-mata air religiositas diyakini bahwa sesama adalah citra Tuhan, kalifatullah Allah serta rekan sesama peziarah menuju asal hidup, yaitu sumber kebaikan itu sendiri. Yang dipraktikkan lewat berbuat baik dan menularkan serta membagi kebaikan agar hidup makin disyukuri, lantaran makin sedikit yang tidak kebagian rahmat baik pencipta dan makin menyusut sesama-sesama yang papa dan tidak merasakan ratanya kebaikan yang dibagi, karena sikap-sikap menumpuk buat diri sendiri atau tata hidup bersama yang tidak membagi roti untuk sesama tetap dominan sebagai cara hidup serakah menggenggam dua tangan dan merebut semuanya dalam gangguan sendiri, serta sama sekali tidak mau mengulurkan tangan terbuka buat yang lain.

Meminjam Arnold Toynbee, pilihan pertama peradaban yang antikehidupan dan antipemekaran daya-daya kebudayaan kreatif akan membawa kehancuran bahkan hilangnya peradaban sebuah bangsa. Olehnya bahkan ditunjuk sumbernya karena tidak tumbuh lagi generasi pe-rintis kreatif, tidak ada lagi pencipta dan perancang hidup bersama yang beradab karena daya kreasi dibuang habis oleh perkelahian dan bunuh diri budaya karena kesalahan sendiri.

Mengapa kesalahan sendiri? Karena orang menyalurkan naluri-naluri primitifnya sebagai pemborosan dan saling menghancurkan tanpa perekat dan tanpa satu kerelaan untuk berkorban, menghormat sesama, apalagi solider.

Dalam bahasa Freud, sublimasi kultural dipakai dan didorong oleh naluri Thanatos, yaitu naluri merusak bahkan naluri kematian. Padahal, pilihan kedua, bila mau, dalam sublimasi karya-karya budaya Freudian, ia akan berkembang bila disumberkan pada eros, yaitu pro life energy yang melangsungkan dan merawat kehidupan.

PERADABAN yang membela kehidupan yang bersumber pada eros inilah yang dalam pemahaman tradisi besar lama dirumuskan sebagai puncak-puncak dari pencapaian masing-masing tradisi lokal ketika ekspresi-ekspresi karya kultural diberi wujud entah seni, atau karya maupun kebijaksanaan tenunan adat setempat. Mengapa pemahaman puncak-puncak masuk dalam tradisi besar lama? Dua alasannya. Pertama, asumsi penentu benar tidaknya atau baik tidaknya dipegang oleh otoritas, pusat dengan kuasa monopoli penafsir dan penentu sebuah peradaban sah atau tidak.

Maka, ketika kesadaran keragaman makin tercerahkan berkat pendidikan serta insight-insight betapa perbedaan merupakan kenyataan kehidupan yang memperkaya, maka di sana, masing-masing tradisi sama sahnya untuk menafsir dan menentukan local wisdom atau kearifan siapa pun itu sama-sama berharga di antara satu dengan yang lain untuk menjadi acuan serta penentu makna dan arti kehidupan.

Dengan kata lain, begitu proses pendidikan memperluas dan memperdalam kesadaran setiap identitas aku bersama-sama dengan aku-aku yang lain maka tidak ada lagi main kuasa monopoli si Aku Besar yang memaksakan bahkan mendikte aku-aku lain sebagai sesama-sesama peziarah kebenaran, keindahan dan kebaikan. Inilah kesadaran multi aku kultural di mana aku beridentitas etnik sama sah dan benarnya ketika merajut kebudayaannya menjadi transformatif (pendaerahan) bersama-sama aku beridentitas kota; juga bersama diri pesisir; diri agraris; diri kosmopolitan maupun diriku yang pasca-Indonesia atau aku universal bahkan pula aku lintas batas.

Ini semua amat mengandaikan proses pendidikan yang mencerahkan budi untuk berpikir jernih agar tidak bergerak karena emosi dan marah serta dengki sekaligus edukasi sumbangan tradisi-tradisi agama dan kebijaksanaan lokal untuk mendidik beningnya nurani buat jujur terhadap diri sendiri; Tuhan dan terhadap sesama!

Hanya melalui proses ini, pemimpin dan masyarakat dewasa bernegara bisa terwujud!



DR Mudji Sutrisno, Rohaniwan dan pengajar di STF Driyarkara Jakarta

Mengenal Sartre

Jean-Paul Sartre
Jean-Paul Sartre dikenal sebagai satrawan, filosof eksistensialis Lahir dari ayah seorang Katolik, ibu Protestan tapi ia menyatakan diri atheis.

Karya dalam bidang filsafat yang terkenal:
- L'Etre et Le Neant: Essai d'ontologie phenomenologique (Being and Nothingness -1943)
- L'Existensialisme est un Humanisme (Existensialism and Humanism -1946)

Pemikirannya meperlihatkan perngaruh dari tradisi rasionalisme kontinental, idealisme dan fenomenologi. Yang paling bepengaruh dalam pemikirannya adalah Husserl dan Heidegger.

Karyanya Psikologi Imajinasi memeperlihatkan pengaruh fenomenologi Husserl, walaupun ia tidak meyetujui kesimpulan2 Husserl. Perngaruh terbesar juga dari Heidegger tapi ia bukan seorang yang berhaluan Heideggerian.

Tema sentralnya adalah situasi manusia dalam dunia tanpa Tuhan. Fokus orientasi pemikirannya adalah probelem2 manusia yang paling eksistensial [Jones,1969] Menurutnya hanya manusia sajalah yang benar2 bereksistensi [Olafson,1976] Ide utama filsata eksistensialisme-nya adalah "eksistensi mendahului esensi"
Satre tidak percaya manusia diciptakan oleh image Tuhan atau oleh suatu tujuan yang bersifat ilahiah. Dia menegaskan "Man exist and that is all we can say abou it" [Patterson,1971] konsekuensinya adalah:
  1. Masing-masing individu memiliki hakikat sendiri-sendiri, tidak ada hakikat universal manusia yang hadir salam seluruh human being. Manusia adalah pencipta dirinya sendiri; ia terus mencipta atas dasar kemauan dan kebebasannya.
  2. Manusia adalah mahluk yang bertanggung jawab, karena ia memiliki kebebasan untuk memilih. Kebebasan itu tidak dibatasi oleh prakonsepsi yang sudah jadi dan oleh hakikat manusia yang tidak dapat berubah atau oleh tujuan-tujuan yang harus dipenuhi.

Konsep ontologi Satre berfokus pada yang-ada. Ontologinya ini didasarkan pada dualisme (walaupun tidak murni Cartesian) yaitu secara fenomenologis yang-ada (being) itu dibedakan menjadi dua macam: "Ada-dalam-diri" (Being-in-itself - L'etre-en-soi) dan "Ada-untuk-diri" (Being-for-itself -L'entre-pour-soi)

1. L'etre-en-soi
Menunjuk suatu cara bereksistensi secara terututp; apa yang ada sepenuhnya identik dengan dirinya sendiri. Tertutup, tanpa celah/lobang dan tanpa gerak sedikitpun untuk keluar dari dirinya. Tidak terdapat subjek-objek, sama sekali tidak punya relasi. Keberadaannya bersifat mengisi secara mandiri (self-contained) [Raymond,1989] "ada yang tidak berkesadaran" Seperti benda yang ada dengan sendirinya (it is what it is), hanya secara kebetulan; didak memerlukan keterangan lain. Jika L'etre-en-soi diciptakan Tuhan, maka ia berada dalam pikiran Tuhan atau diluarnya. Jika didalamnya, maka belum tercipta; jika diluarnya, maka bukan ciptaan, sebab berdiri sendiri. Ia hanya mempunyai pengertian dalam hubungannya dengan manusia, yaitu sebagai sarana tingkah laku manusia.

2. L'entre-pour-soi
Menunjuk pada cara beradanya manusia; sifatnya melebar (co-extensive) dengan dunia kesadaran dan sifat kesadaran yang berada diluar diri sesuatu atau seseorang. Raymond,1989] Dalam kesadaran barulah muncul subjek dan objek. Subjek berarti "pengada
yang sadar" dan objek adalah dia sendiri, sekedar disadari. Kesadaran tidak identik dengan dirinya karena ia hanya berdiri sebagai "subjek yang lain' yang tak terpisahkan dengan dirinya sendiri. Antara subjek yang menyadari dan objek yang disadari selalu terdapat jarak; jarak antara "aku" dan "diruiku" -- inilah yang disebut dengan ketiadaan (Notingless).
Ketiadaan adalah kesadaran yang senantiasa menampakan dirinya ditempat lain, di seberang kesadaran. Kesadaran manusia setiap saat ada dalam ketiadaan dan senantiasa mengadakan perubahan-perubahan menuju keberadaan, namun anehnya selalu jatuh pada ketiadaan. [Satre, Being and Nothingness]
Kesadaran seperti pada doktrin fenomenologi merupakan "kesadaran tentang" (consciousness of) yang berarti mengandung makna dua hal: kesadaran akan diri (consciousness of self) dan kesadaran akan sesuatu (consciousness of something).
Kesadaran-akan-sesuatu bersifat mutlak karena tidak ada dan tidak pernah ada kesadaran murni dalam diri seseorang. Ia sepenuhnya bersifat transparant sehingga kita tidak bisa menyentuhnya. Karena itu kita dapat definisiakan kesadaran sebagai "dia adalah bukan dia, tetapi dia yang bukan dia" [Raymond, 1989]

NOTHINGNESS

Kesadaran selalu cenderung menjadi sesuatu yang "tiada" Untuk menjadi sadar berarti menjadi sesuatu yang bukan dia dan menjadi "tiada" Ketiadaan bukanlah suatu hal yang abstrak, bukan pula berarti proses ke dunia lain (trans-wordly), tapi sebuah objek pengalaman manusia. Ketiadaan adalah sebuah tindakan kesadaran. Ketiadaan tidak mempunyai temapat dalam didalam struktur murni yang-ada. Ketiadaan tidak perlu memiliki kekuatan untuk menhasilkan dirinya. Ketiadaan memiliki eksistensi pinjaman (borrowed existence) Ia tidak ekesis, ia dibuat menjadi.

Dari mana asal ketiadaan?
"Manusia adalah Ada, melalui dirinya 'ketiadaan' datang kedunia" Namun agar manusia dapat menjadi sumber "ketiadaan", ia harus sudah memikirkan "ketiadaan" dalam dirinya sendiri. Jadi manusia bukan hanya menciptakan "ketiadaan" di dalam dirinya tapi juga memuat :ketiadaan" dalam dirinya sendiri.

Ini berarti, sifat realitas manusia itu unik, ia dapat memisahkan dirinya dari sesuatu objek dan dapat menyembunyikan dirinya sebagai sesuatu yang bukan objek. Artinya manusia tidak senantiasa terikat oleh realitas dunia objektif. Manusia dapat memisahkan dirina dari dunia, dan hal ini hana mungkin terjadi apabila manusia benar2 bebas.

KEBEBASAN.
Kebebasan manusia sangat penting, Satre:
"Everything that I have tried to write or do in my life was meant to stress the importace of freedom" [Anderson,1979]

Menurut Satre kita menhadapi dilema: Manusia sama sekali bebas atau sama sekali tidak bebas; tidak ada kemungkinan yang ketiga. Yang hendak ia lakukan adalah..
Pertama, menghantam semua bentuk determinisme yang mengklaim bahwa seluruh realitas, termasuk didalamnya manusia, segala aktivitasnya dapat dijelaskan dan dipresiksikan dengan hukum-hukum tertentu.
Kedua. mengcounter pandangan Freud yang menyatakan bahwa mungkin tak tersadari manusia telah membangun suatu kompleks. Menurutnya, tidak ada kompleks, kalau manusia membangun suatu kompleks maka manusia itu sendiri yang bertanggung jawab.
Dengan kebebassannya manusia membuat dirinya apa saja dan akan terus membuat dan membuat, karena manusia pada dasarnya tidak pernah identik dengan dirinya.
Konsep tentang "sesama manusia" (L'autrui) oleh Satre--seperti juga eksistensialis yang lain--dianggap merupakan unsur yang mutlak dalam kehidupan manusia. Ada bersama merupakan ada yang niscaya. Dasar ontologi kehidupan bersama tsb adalah berupa "konflik", suatu clash atau pertentangan terus menerus
Semua perjuampaan, semua bentuk pergaulan, manusia selalu mencoba merendahkan (regard) orang lain untuk menjadi objeknya yaitu menjadikan barang untuk kepentingan, kesenangan, kepuasan dirinya sendiri. Jadi antar umat manusia hanya mempunyai dua kemungkianan: dia menjadi subjek atau menjadi objek. Dia yang dimakan atau yang memakan ( L'enfer, c'ets les autes).





Daftar Pustaka:
"Sistem-sistem metafisika barat: dari Aristoteles sampai Derrida", Drs. Joko Siswanto, M.Hum., Pustaka Pelajar
Jones, W.T., 1969, "A HIstory of Western Philosophy Kant to Wittgeinstein and Satre", Harcourt, Barce & World Inc., New York
Olafson, F.A., 1967 "Jean-Paul Satre" dalam Paul Edawrds (ed), The Encyclopedia of Philosophy, The Macmillan Company & The Free Press, NewYork
Anderson, T.C., 1979, "The Foundation and Structure of Satrean Ethics" The
Regents Press, Lawrence??

Cerita tentang Roda kehilangan Jari-jarinya

Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap. Tentu, ia tak bisa lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Kemana kah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu?

Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah di tinggalkannya. Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu di perhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di
cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu.

Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan seranggakecil di jalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam.

Hei....semuanya tampak lain. Ya, sewaktu sang roda melintasi jalan itu dengan laju yang kencang, semua hal tadi cuma berbentuk titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa. Namun kini, semuanya tampak lebih indah.

Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah. Mereka kini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum,melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum danmelanjutkan pencariannya.

Bunga-bunga pun tampak lebih indah. Harum dan semerbaknya, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat.

Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya. Kini, semut dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang
meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang di tabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam, dan doa pada sang Roda.

Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda. Jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap. Sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda. Semua batu danpualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.